KEMANUSIAAN DAN PENDIDIKAN
PENDIDIKAN YANG TERCEMAR
Pada umumnya manusia yang telah melalui suatu proses pendidikan akan menghasilkan manusia baru yang memiliki suatu kemampuan tertentu. kemampuan tersebut bisa berbeda beda tergantung bagaimana pengertian, sistem dan praktik pendidikan yang digunakan. begitu juga dengan kemampuan yang dihasilkan suatu proses pendidikan pasti memiliki maksud tertentu. didalam masyarakat kapitalis khususnya masyarakat dengan ekonomi menengah kebawah cenderung memahami pendidikan hanya sekedar bagian dari sarana mewujudkan kesejahtraan ekonomi. Bisa kita jumpai suatu harapan orang tua kelak anak nya setelah selesai sekolah berharap memiliki suatu pekerjaan yang lebih baik. ada kecendrungan sekolah/pendidikan di masyarakat kapitalis membekali manusia kemampuan yang sesuai permintaan lapangan pekerjaan. maka wajar kita sering mendengar istilah sekolah/kuliah untuk kerja.
Ada indikasi institusi pendidikan hanya sekedar mencetak manusia yg melek pengetahuan siap pakai dan siap kerja (buruh yang intelek). melalui praktik pendidikan seperti ini manusia diarahkan pada pandangan bahwa hidup hanya sekedar persoalan materi (kesejahtraan). jika demikian bisa kita duga seperti inilah gambaran pendidikan yg tidak murni lagi karena telah terkontaminasi dengan relasi ekonomi. mungkin perlu memulihkan pemahaman maupun praktik dan memperkenalkan kembali falsafah pendidikan.
Pendidikan memanusiakan manusia, mengapa?
Untuk memulainya terlebih dahulu kita memulihkan pemahaman mengenai manusia. pada dasarnya manusia butuh materi untuk bertahan hidup tetapi hidup bukan hanya sekedar untuk mencari materi karena manusia juga memiliki dimensi lain. seperti yang dikatakan Cak Nun “ mengapa masih ada orang sibuk yang mencari dunia (materi) padahal dia sudah ada di dunia?” meskipun memiliki dimensi material tetapi hakikat manusia berada pada dimensi yang lebih tinggi kita sebut dengan dimensi atau sisi kemanusiaan.
Dimensi kemanusiaan bisa digambarkan sebagai berbagai kecendrungan khusus atau potensi yang hanya dimiliki oleh manusia sehinggal hal ini yang menjadikan manusia sebagai manusia. secara alamiah berbagai kecendrungan khusus ini (kemanusiaan) dimiliki oleh semua manusia tetapi tidak semua manusia bisa mengoptimalkan kecendrungan tersebut sehingga membutuhkan sarana lain guna mengenal dan menggalih kecendrungan yang terpendam dalam diri manusia yang kita sebut sebagai pendidikan.
jika saya analogikan pendidikan diumpamakan sebagai petani kebun dan manusia diumpamakan kebun bunga. maka tugas sang petani tadi hanya merawat, menyiram, memberi pupuk dan menjaga benih yang sudah ada di kebun hingga tumbuh dan puncaknya kebun tersebut dipenuhi berbagai bunga yang bermekaran. jadi wajar jikalau umum kita pahami pendidikan suatu proses untuk mengoptimalkan seluruh aspek potensi kemanusiaan dan diduga kuat ini alasannya. sekali lagi pendidikan itu mengembangkan potensi, bukan mencetak.